Masjid dan Makam Sunan Kudus: Jejak Sayyid Ja’far Shaddiq, Panglima Perang Kesultanan Demak

Masjid dan Makam Sunan Kudus

Dalam berdakwah, Sunan Kudus atau Jaffar Shadiq menerapkan pendekatan yang sangat toleran terhadap budaya setempat. Bentuk menara, gerbang, dan padasan wudhu Masjid Kudus, misalnya, konon mirip dengan “delapan jalan Buddha”. Metode dakwah yang jitu!

Masjid Menara Kudus

Masjid ini lebih dikenal dengan nama Masjid Menara atau Masjid Kudus atau Masjid Menara Kudus, alih-alih nama aslinya: Masjid Al-Aqsha. Dibangun pada 1549 M (956 H) oleh Sayyid Ja’far Shaddiq, nama kecil Sunan Kudus, menurut inskripsi berbahasa Arab yang tertera di atas mihrab. Bangunan menaranya sangat antik: percampuran budaya Islam dan Hindu Jawa. Semula, ketinggian masjid ini hanya 13,25 meter. Dalam perkembangan lebih lanjut, setelah direhabilitasi dan diperluas, ketinggian masjid mencapai 17,45 meter. Bangunan baru di bagian depannya, berupa serambi, didirikan pada 1925 M (1344 H).

Dalam perkembangan lebih lanjut, serambi disambungkan dengan bangunan baru berupa serambi lagi, sehingga Kori Agung (sekat yang terbuat dari kayu ukir), yang terkenal dengan Lawang Kembar, menjadi ternaungi oleh serambi masjid. Di atas serambi itulah dibangun sebuah mimbar kubah yang besar bercorak arsitektur India.

Kaligrafi huruf Arab menghiasi sekeliling kubah, yang memuat nama para Khulafahur Rasyidin dan para sahabat Rasulullah SAW, dari mulai Abu Bakar, Umar, Usman, Ali, hingga Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, dan Abdurrahman bin Auf. Juga nama keempat imam madzhab: Hanafi, Hambali, Syafi’i, dan Maliki.

Di kompleks masjid ini terdapat banyak sekali pintu gerbang (gapura). Dua di antaranya bahkan dijumpai di dalam masjid. Legenda menyebutkan, pendirian dan penamaan masjid ini ada kaitannya dengan kota Yerusalem di Palestina, karena di kota itu berdiri Masjid Al-Aqsha, dan kota itu sendiri memiliki nama lain: Baitul Maqdis atau Al-Quds.

Disebut-sebut dalam berbagai kisah, sebelum masjid ini berdiri, wabah penyakit kudis menimpa penduduk. Tak seorang pun mampu menyembuhkan. Lalu mereka mendatangi Sayyid Ja’far Shaddiq. Dan dengan doanya, beliau berhasil menyembuhkan dan mengusir wabah tersebut. Sebagai imbalan, syahdan, penguasa daerah memberinya hadiah. Namun, tanpa mencederai maksud dan niat baik pihak pemberi, Sunan Kudus malah meminta sebuah batu yang diambil dari Baitul Maqdis. Dan, untuk mengenang masa-masa belajar selama di Palestina, Ja’far Shadiq memberi nama tempat tinggalnya Kudus – sekaligus memperingat berdirinya Masjid Al-Quds.

Sejumlah keunikan dapat disaksikan jika kita mengunjungi masjid legendaris ini. Beduk, misalnya, justru berada di dalam menara. Padahal, lazimnya, beduk ditempatkan di serambi masjid. Menara itu sendiri dilihat selayang pandang lebih mirip sebuah candi. Kalangan pengamat menyebut, menara itu sangat mirip dengan Candi Dago, yang terdapat di Magelang.

Menara ini terdiri dari tiga bagian: kaki, badan, dan puncak menara. Bagian pucuk menara, yang terbuat dari tanah liat, pernah disambar petir, dan sejak 1947 diganti dengan bahan seng.

Bentuk Masjid Sunan Kudus, ternyata, sama sekali tak dapat dilacak jejaknya dari arsitektur ala Timur Tengah – seperti umumnya. Jadi, bentuknya merupakan keunikan yang tiada duanya di Nusantara, bahkan di dunia. –

Wujud Kompromi Sunan Kudus

Kudus adalah sebuah kota di Provinsi Jawa Tengah yang terletak di antara daerah-daerah Jepara, Demak, Pati, dan Purwodadi, yaitu di jalur perjalanan dari Semarang (Jawa Tengah) menuju Surabaya (Jawa Timur). Menurut cerita yang diyakini masyarakat, nama Kudus berasal dari kata Al-Quds, yang berarti “suci”, atau “kesucian”. Riwayat kota Kudus tidak bisa terlepas dari nama Sunan Kudus, salah satu Wali Songo, penyebar agama Islam di tanah Jawa pada waktu itu. Sebagai peninggalannya, Kudus memiliki sebuah artefak terkenal, Menara Kudus, yang berbentuk seperti candi; serta Masjid Menara Kudus, yang dibangun oleh Sunan Kudus sekitar tahun 1685 M.

Kecuali terkenal sebagai Kota Wali, karena nama Sunan Muria juga akrab diidentikkan dengan wilayah ini, Kudus juga terkenal sebagai Kota Kretek. Berbagai merek rokok kretek terkenal lahir dari kota ini. Bahkan kini Kudus menjadi kota industri, karena pesatnya perkembangan industri, seperti industri rokok, kertas, percetakan, kerajinan, bordir, makanan, dan lain-lain.

Secara fisik, kota yang satu itu banyak dipengaruhi oleh kebudayaan asing, seperti Hindu, Cina, Persia (Islam), dan Eropa – yang masuk ke kawasan ini dalam kurun waktu yang cukup panjang.

Sunan Kudus atau Jaffar Shadiq merupakan salah satu dari Wali Songo ini, lahir dari pasangan Sunan Ngudung (R. Usman Haji) dan Syarifah (adik Sunan Bonang), anak Nyi Ageng Maloka. Sunan Ngudung adalah salah seorang putra sultan dari Mesir yang berlayar sambil berniaga dan berdakwah hingga ke Jawa. Sunan Kudus menikah dengan Siti Syari’ah binti Sunan Ampel. Ia berguru pada Sunan Kalijaga. Setelah ilmunya cukup, ia memilih sasaran dakwah di berbagai daerah tandus di Jawa Tengah, antara lain Sragen, Simo, hingga Gunung Kidul.

Dalam berdakwah, ia menerapkan pendekatan yang diajarkan Sunan Kalijaga, sang guru, yakni sangat toleran terhadap budaya setempat. Di sana-sini, bahkan, Sunan Kudus menyampaikannya dengan cara yang lebih halus.

Ada yang mengatakan, Sunan Kudus mendekati masyarakat dengan memanfaatkan simbol-simbol Hindu dan Buddha. Lihatlah arsitektur Masjid Kudus, misalnya. Bentuk menara, gerbang, dan pancuran atau padasan wudhu, konon diidentifikasikan sebagai sesuatu yang mirip dengan apa yang disebut sebagai “delapan jalan Buddha”. Apakah benar demikian? Wallahu’alam bisshawab. Tapi itu merupakan sebuah wujud kompromi yang dilakukan Sunan Kudus.

Suatu waktu, ia memancing masyarakat pergi ke masjid, untuk mendengarkan tablighnya. Caranya, ia sengaja menambatkan sapinya, yang diberi nama Kebo Gumarang, di halaman masjid. Orang-orang Hindu, yang mengagungkan sapi, menjadi bersimpati. Terlebih setelah mereka mendengar penjelasan Sunan Kudus tentang surah Al-Baqarah, yang berarti “sapi betina”. Dengan menggunakan perlambangan itulah, secara bertahap tapi pasti sang wali mengulas hakikat ajaran tauhid. Beliau memperjelas hakikat makhluk dan hakikat Sang Khaliq. –

Gending Maskumambang

Sebagai pujangga, Sunan Kudus juga menggubah cerita-cerita ketauhidan. Dengan kefasihannya dalam ilmu agama – khususnya tauhid, hadits, sastra, dan fiqih – dari tangannya lahir cerita-cerita yang mudah dicerna sekaligus bermuatan filsafat dan memancarkan ruh agama. Di atas segalanya, gubahan itu menyampaikan pesan kebenaran dan kebajikan dalam ajaran Islam. Kisah-kisah tersebut disusunnya secara berseri, sehingga orang banyak tertarik untuk mengikuti kelanjutannya. Sekadar contoh, Gending Maskumambang dan Mijil adalah dua ciptaan Sunan Kudus yang dikenal luas masyarakat.

Pendekatan dan sentuhan dari hati ke hati seperti ini tampaknya mengadopsi Kisah 1001 Malam dari masa kekhalifahan Abbasiyah. Dengan model dakwah berbasis pada denyut nurani masyarakat ini, Sunan Kudus memikat simpati masyarakat, sekaligus membuka mata hati mereka untuk menjadi muslim.

Sebagaimana ayahnya, dengan kecakapannya sebagai ahli strategi militer, ia juga menjadi panglima perang Kesultanan Demak. Ia ikut bertempur, saat Demak, di bawah kepemimpinan Sultan Prawata, bertempur melawan Adipati Jipang, Arya Penangsang.

Kini, hampir tiada henti peziarah mendatangi masjid yang dibangun oleh Sunan Kudus sekitar 500 tahun lalu itu. Mereka bertabarukan, shalat di masjid itu, kemudian berziarah ke Makam Sunan Kudus – yang terletak di belakang masjid. Di kompleks pemakaman ini terdapat juga makam para sahabat Sunan yang dulu ikut berjuang menegakkan syiar Islam.

 

Masjid dan Makam Sunan Kudus: Jejak Sayyid Ja’far Shaddiq, Panglima Perang Kesultanan Demak

You May Also Like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: